STRATEGIC COLLABORATION Dan TOTAL ACTION
(Pribadi Muslim)
Guru sebagai pendidik adalah tokoh
yang paling banyak bergaul dan berinteraksi dengan para murid dibandingkan
dengan personel lainnya di sekolah. Guru bertugas merencanakan dan melaksanakan
proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan bimbingan dan
pelatihan, melakukan penelitian dan pengkajian, dan membuka komunikasi dengan
masyarakat.[1]
Profesi guru masih dihadapkan kepada
banyak permasalahan, karena profesi guru merupakan suatu profesi yang sedang
tumbuh, semua permasalahannya masih relevan untuk dibicarakan, salah satu
diantaranya profesi harus melalui pendidikan tinggi keguruan. Dalam
melaksanakan tugasnya, guru bukanlah sebatas kata-kata, akan tetapi juga dalam
bentuk perilaku, tindakan, dan contoh-contoh.
Islam adalah agama yang besar dan
sempurna akan ajarannya, dan kita benar-benar masih perlu belajar tentang itu
semua. Dalam apa yang kita laksanakan sehari semalam bentuk dari pengabdian
kita kepada Allah dan kepada sesama serta alam sekitar sangatlah kurang terkadang,
pribadi seorang muslim harus bisa mensinkronkan apa yang terkandung dalam
ajaran-ajaran yang ada dalam islam terutama mengamalkan 6 rukun Iman dan 5
rukun Islam dan ihsan serta harus bisa mengetahui isi kandungan secara
Universal.
Setiap diri kita
sebenarnya mempunyai kecerdasan diri yaitu emotional dan spritual power (EQ dan
SQ) atau yang simpel disingkat ESQ , secara cerdas metode ESQ dengan metode IQ,
EQ dan SQ yang diajukan oleh berbagai pemikir barat masa kini. Perbedaan yang
jauh dari apa yang difikirkan oleh pengamat barat karena ESQ mengamalkan model
pedoman hidup yang memanfaatkan kecerdasan intelektual, emosi dan spiritual
berdasarkan nilai-nilai dari rukun iman, rukun islam dan suara hati manusia
yang terangkum dalam Asmaul Husna.
Dalam bab
selanjutnya akan dijelaskan tentang pribadi muslim untuk memiliki wawasan dan
pemahaman tentang strategic collaboration dan total action yang merupakan sub
bab dari keterangan ESQ pemahaman dari kandungan 6 rukun iman dan 5 rukun
islam. Semoga makalah yang singkat ini kita bisa
belajar dan mendapat ilmu yang bermanfaat.
A. Pengertian Profesi bagi guru
Istilah profesi dalam kehidupan
sehari-hari digunakan untuk menunjukkan tentang pekerjaan seseorang. Seseorang
yang bekerja sebagai dokter, dikatakan profesinya sebagai dokter dan orang yang
pekerjaannya mengajar di sekolah dikatakan profesinya sebagai Guru. Bahkan ada
orang yang mengatakan bahwa profesinya sebagai tukang batu,tukang
parkir,pengamen,penyanyi,pedagang dan sebagainya.Jadi istilah profesi dalam
konteks ini, sama artinya dengan pekerjaan atau tugas yang dilakukan seseorang
dalam kehidupannya sehari-hari.
Guru
adalah sebuah profesi, sebagaimana profesi lainnya merujuk pada pekerjaan atau
jabatan yang menuntut keahlian, tanggung jawab, dan kesetiaan. Suatu profesi
tidak bisa di lakukan oleh sembarang orang yang tidak dilatih atau dipersiapkan
untuk itu. Suatu profesi umumnya berkembang dari pekerjaan (vocational), yang
kemudian berkembang makin matang serta ditunjang oleh tiga hal: keahlian,
komitmen, dan keterampilan, yang membentuk sebuah segitiga sama sisi yang di
tengahnya terletak profesionalisme.
Senada dengan itu, secara implisit,
dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
dinyatakan, bahwa guru adalah : tenaga profesional yang bertugas merencanakan
dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan
pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada
masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi (pasal 39 ayat 1).
B. Strategic Collaborattion
Setiap insan yang terlahir, bernafas dan hidup di dunia ini pastilah
dianugrahi ruh (soul), jiwa (mind), dan raga (body) oleh
Sang Pencipta (Al-Khooliq). Hal ini lah beberapa diantaranya yang menjadi focus
pembahasan kedua setelah kita mengenal bagaimana makna profesi bagi seorang
guru.
Akan tetapi sebelum membahas mengenai Strategic Collaboration
terlebih dahulu penulis akan memaparkan pula tentang makna ESQ 165.
ESQ adalah singkatan dari Emotional Spiritual Quotien. Metode ini
ditemukan oleh Ary Ginanjar Agustian yang menyatukan IQ (Inteligence Quotient)
terletak pada fungsi otak neocortex,[2] EQ
(Emotional Quotient) terletak pada fungsi otak lymbic system,[3] dan SQ
(Spiritual Quotient) pada fungsi otak godspot, atau terletak pada temporallobe.[4] Agar lebih
mudah dipahami dan diingat, penjelasan ESQ mengunakan ESQ model seperti gambar
di bawah.
Model ini menggambarkan satu
titik tuhan yang merupakan god spot (titik tuhan) yang terbelenggu atau
dikelilingi oleh lingkaran hitam bertuliskan Zero Mind Proses (ZMP).
Terdapat bagian yang berwarna yaitu pink bertuliskan Star Priciple,
Biru bertuliskan Angel principle, hijau bertuliskan Leadership principle,
kuning bertuliskan Learnig principle, orange bertuliskan vision
principle, dan merah bertuliskan Well Orgenized Principle. Terakhir bagian
luar yang berbentuk bola biru terdapat lima litasan yang berputar melawan jarum
jam yang bertuliskan; (1) Mission Statement, (2) Characther Building,
(3) Self Control (4) Strategic Collaboration (5) Total Action.
Adapun hubungan ESQ 165 dengan
model tersebut, antara lain:
Angka 1: Dijelaskan dalam
model sebagai titik tuhan (God Spot). Pada pusat gambar terdapat sebuah lingkaran
terdalam yang bertuliskan titik God spot atau titik tuhan.
Penelitian yang telah dilakukan oleh neuro-psikolog Michael Persinger awal
tahun 1990-an, dan oleh Neurolog Ramachandran 1997 bersama timnnya di
Universitas California mengenai adanya “Titik Tuhan” (God Spot) dalam otak
manusia. Pusat spiritual yang terpasang ini terletak diantara hubungan-hubungan
syaraf dalam cuping-cuping temporal otak.
Lingkaran hitam yang mengelilingi
titik putih atau god spot merupakan belenggu yang menghalangi seseorang
mencapai kebahagiaan sejati. Lingkaran tersebut berupa prasangka-prasangka
negatif, prinsip-prinsip hidup yang salah, pengalaman-pengalaman yang membelenggu
pikiran, egoisme kepentingan, pembanding-pembanding yang subyektif dan
belenggu-belengu fanatisme yang menyesatkan.
Pembersihan God spot disebut Zero Mind Process, yakni
pembentukan hati dan pikiran yang jernih dan suci. Kemerdekaan berpikir akan
melahirkan pribadi-pribadi kreatif, berwawasan luas, terbuka, fleksibel, mampu
berpikir jernih dan God spot yang kembali bercahaya.
Manusia menurut konsep ESQ adalah makhluk spiritual murni, yaitu makhluk
yang ditiupkan ruh-ruh spiritual ke dalam tubuh manusia. Sifat-sifat tersebut
kemudian dipadukan ke dalam materi konkret berupa tubuh atau jasad manusia yang
terbuat dari tanah. Pendapat ini dibuktikan dengan adanya penemuan ilmiah SQ
oleh V.S Ramachandran pada tahun 1997, lalu God Spot oleh Michael Persinger,
Wolf Singer, dan Rudolfo Llinnas tentang osilasi saraf spiritual. Para ahli tersebut diatas berhasil membuktikan bahwa manusia memiliki makna
tertinggi kehidupan manusia (The Ultimate Meaning).
Ary Ginanjar menegaskan bahwa
penemuan God Spot pada manusia lebih meyakinkan pendapat ini, karena
akan senantiasa mencari Tuhan-nya, yaitu melalui sifat-sifat-Nya, yang selalu
diidam-idamkan manusia dan sekaligus merupakan bukti keperkasaan Allah, serta
penghambaan manusia. Dengan bermodalkan Spritual
Quotient (SQ), manusia mengabdi kepada Allah untuk mengelola bumi sebagai
khalifah dan misi utamanya semata-mata mencari keridhaan Allah, target utamanya
adalah menegakan keadilan, perdamaian dan kemakmuran. Langkah nyatanya berupa
spiritualisasi di segala bidang. Inilah yang kemudian disebut sebagai aktualisasi
diri melalui Ihsan.
Sifat-sifat ini menurutnya
termasuk kategori ihsan, atau menuju sifat-sifat Allah (taqarub), yang terletak
pada spiritual center (God Spot). Nilai-nilai tersebut
diikhtisarkan dari 99 Asmaul Husna yang merupakan proto kesadaran yang
terdeteksi pada osilasi Pare-Llinas, yang dianggap sebagai arketipe oleh
Zohar, yang diduga sebagai super-egooleh Freud, self-actualization oleh
Maslow, unconscious-mind oleh Carl Jung, dan dinamakan ”makna
hidup” oleh Frankl. Ia lalu menamakan nilai-nilai ini sebagai Asmaul
Husna Value System (AHVS) yang menghasilkan ultimate
value dan ultimate drive.
Angka 6 merupakan perwakilan
dari enam warna yang pertama, yang mewakili dimensi emosional atau emotional
quotient (EQ). Pada tahun 1990, Daniel Goelman menulis buku Emotional
Intelligence. Goelman mengatakan bahwa sangatlah sempit apabila keberhasilan
seseorang hanya ditentukan oleh sebuah entitas (besaran) yang disebut dengan
kecerdasan intelektual. Ada entitas lain yang lebih dominant dalam memberi
kontribusi kesuksesan seseorang, yaitu apa yang disebut kecerdasan emosional
(EQ). EQ bekerja pada fungsi otak limbic system, kecerdasan ini
menunjukkan kemampuan seseorang dalam mengungkapkan dan merasakan perasaan
orang lain.
EQ adalah ketrampilan untuk
mengenali dan mengelola perasaan dan emosi diri sendiri maupun orang lain.
Dimensi ini digambarkan dengan warna pink yang bertuliskan Star
Priciple. Kenapa berwana pink dikarenakan pada Star Priciple kita
dapat mencintai Allah lebih dari mencintai apapun.
Kedua, digambarkan dengan warna
biru Angel principle menjelaskan tetap berbuat baik dimanapun
kita berada meski tanpa ada orang yang melihat. Warna biru melambangkan kedamaian.
Ketiga, Leadership
principle yang dilambangkan dengan warna hijau. Diharapkan kita dapat
mencontoh kepemimpinan Nabi Muhammad yang bersahaja, memaafkan dan sebagai suri
tauladan sehingga diikuti banyak orang. Cara atau langkah melakukan Leader
principle adalah (1) dicintai dengan membangun hubungan, (2) dipercaya
dengan integritas (3) diikuti dengan keluh kesah (4) Kader dengan membimbing
orang lain (5) Pemimpin abadi dengan Leave legacy atau
meninggalkan kebaikan atau manfaat.
Keempat, kuning
bertuliskan Learnig principle kita tetap belajar seperti padi
yang masak setiap berisi semakin merunduk, memegang teguh Al-quran dan
Al-hadis, serta memiliki prinsip seperti orang di budaya Jepang KAIZEN (ambil
yang baik dan tinggalkan yang bruk). Kelima, warna orange bertuliskan vision
principle, yang berarti kita harus memiliki visi hidup kita. Maka kita
harus memiliki long term vision (visi jangka panjang) yaitu mati
masuk surga dan bertemu dengan Allah; midterm vision (visi
jangka menengah), dan shorter vision (visi jangka pendek) misalnya
menyusun jadwal harian/kegiatan, shalat, mengaji, bangun, mandi dsb. Dan yang
terakhir warna merah bertuliskan Well Orgenized Principle.Yaitu
pengorganisasi yang baik dimana seorang leader yang baik itu timbul dari
nilai-nilai yang baik, kemudian system yang baik dan lahirlah seorang pemimpin
sejati.
Terakhir angka 5 yang
menggambarkan dimensi Inteligensi Quotient (IQ). ditemukan pada tahun
1905 di paruis prancis oleh Binet. Kemudian dibawa ke AS di Universitas
Stanford maka lahir disebut Stanfordbinet dipergunakan pertama kali pada perang
dunia I. Perangkat ini dibawa ke Amerika untuk mengetes para calon tentara
Amerika, dan selanjutnya diperkenalkan keberbagai negara diseluruh dunia,
termasuk Indonesia.
Dimensi ini IQ berisi lima
perihal yang berhubungan dengan raga (body), yaitu personal
strange dan social strang. Personal strange terdiri
dari 3 macam kemampuan, yaitu (1) Mission Statement, memiliki
misi yaitu memberikan rahmat melalui syyahadat, dan melakukan segala kegiatan
karena Allah SWT semata (lilahitaAlla). (2) Characther Building, dengan
menghidari diri dari perbuatan maksiat dan siplin diri. Komitmen ini dapat
dijaga dengan bersuci melakukan wudhu dan syalat, (3) Self Control, yaitu
mampu menguasai hawa nafsu. Kita sebaiknya melakukan control terhadap hawa nafu
berupa emosi dan lain sebagainya dengan isthigfar dan berpuasa. Sedangkan Social strange yaitu kemampuan untuk berhubungan
denga manusia lain. Untuk menumbuhkan rasa soial hendakya kita
melakukan (4) Strategic Collaboration, yaitu saling memberi
dan menerima. Strategi ini dapat dilakukan dengan mengerjakan zakat, sedekah
dan infak, (5) Total Action, yaitu keseluruhan totalitas
dari segala yang kita miliki hanya untuk Allah. Lakukan yang terbaik do
the best dan tawakal. Berhubungan dengan jika telah mampu maka lakukanlah
haji.
C. Total Action (Pribadi Muslim)
Kepribadian Muslim dapat dilihat dari kepribadian orang per orang
(individu) dan kepribadian dalam kelompok masyarakat (ummah). Kepribadian
individu meliputi ciri khas seseorang dalam sikap dan tingkahlaku, serta
kemampuan intelaktual yang dimilikinya. Karena adanya unsur kepribadian yang
dimiliki masing-masing, maka sebagai individu seorang Muslim akan menampilkan
ciri khasnya masing-masing. Dengan demikian akan ada perbedaan kepribadian antara
seseorang muslim dengan muslim lainnya. Secara fitrah perbedaan ini memang
diakui adanya.
)
الأنعام:152 (
Potongan ayat diatas mengandung intisari bahwa Islam memandang setiap
manusia memiliki potensi yang berbeda, hingga kepada setiap orang dituntut
untuk menunaikan perintah agamanya sesuai dengan tingkat kemampuan
masing-masing.
Kalaulah individu merupakan unsur terkecil dari suatu masyarakat, maka
tentunya dalam pembentukan kepribadian Muslim sebagai umat akan sulit dipenuhi.
Beranjak dari pernyataan tersebut, maka dalam upaya membentuk kepribadian
Muslim baik secara individu, maupun sebagai suatu ummah, adanya perbedaan
tersebut bagaimana pun tak mungkin dapat diletakkan. Dalam kenyataannya memang
dijumpai adanya unsur keberagaman (heterogenitas) dan homogenitas(kesamaan).
Maka walaupun sebagai individu masing-masing kepribadian itu berbeda, tapi
dalam pembentukan kepribadian muslim sebagai ummah, perbedaan itu perlu
dipadukan. Sumber yang menjadi dasar dan tujuannya adalah ajaran wahyu.
)الذريّة(56:
Dasar pembentukan adalah Al-Qur’an dan hadist, sedangkan tujuan yang akan
dicapai adalah menjadi pengabdi Allah yang setia, sebagai Tuhan yang wajib
disembah. Sedangkan pengabdian yang dimaksud didasarkan atas tuntutan untuk
menyembah kepada Tuhan yang satu : itulah dia Allah Tuhan kamu, tidak ada yang
berhak disembah selain dia. Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah dia
)
الأنعام:102(
Pernyataan wahyu ini merupakan kerangka acuan dalam pembentukan kepribadian
Muslim sebagai ummah. Acuan ini berisi pernyataan, bahwa setiap Muslim wajib
menunjukkan ketundukan yang optimal kepada zat yang menjadi sesembahannya.
Dengan demikian secara keseluruhan kaum muslimin mengacu kepada pembentukan
sikap kepatuhan yang sama imbasnya diharapkan akan terbentuk sifat dan sikap
yang secara umum adalah sama. Inilah yang dimaksud dengan kepribadian muslim
sebagai ummah.
Kepribadian menurut Zakiah
Daradjat (1980) disebut sebagai sesuatu yang abstrak, sukar dilihat secara
nyata, hanya dapat diketahui lewat penampilan, tindakan dan ucapan ketika
menghadapi persoalan, atau melalui atsarnya saja.[5] Kepribadian mencakup semua unsure, baik fisik maupun
psikis. Naik atau tidaknya nilai kepribadian seseorang tentu saja didasari oleh
ilmu pengetahuan dan moral yang dimilikinya. Artinya, kepribadian akan turut
menetapkan apakah para guru dapat disebut sebagai pendidik yang baik atau
sebaliknya, justru menjadi perusak anak didiknya.
Alexander (1971) menyatakan : “No
one can be a genuine teacher unless he is himself actively sharing in the human
attempt to understand men an their word” secara tidak langsung, Alexander
menyarankan agar guru dapat memahami kesulitan yang dihadapi oleh muridnya
dalam belajar.[6]
Guru sebagai teladan bagi
murid-muridnya harus memiliki sikap dan kepribadian yang utuh yang dapat
dijadikan tokoh panutan idola dalam seluruh segi kehidupannya. Kompetensi
kepribadian yang menggambarkan etika profesi menurut Slamet PH (2006) terdiri
dari sub-kompetensi salah satunya adalah; menunjukkan dan mempromosikan
nilai-nilai, norma, sikap, dan perilaku positif yang mereka harapkan dari
peserta didiknya.
Guru yang professional adalah
guru yang siap memberikan bimbingan nurani dan akhlak yang tinggi kepada
murid-muridnya. Karena bimbingan yang diberikan bersumber dari ketulusan hati, maka guru
benar-benar siap sebagai spiritual father bagi muridnya.
Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa kemuliaan hati seorang guru
diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Guru secara nyata dapat berbagi dengan anak didiknya. Oleh karena itu
Guru pantas menyandang gelar sebagai moeslim total action artinya bahwa
guru benar-benar sosok yang memiliki kepribadian muslim yang sempurna. Hal ini
dikarenakan guru memiliki daya kalbu yang tinggi yang menampilkan kepribadian
paripurna. Daya kalbu terdiri dari daya spiritual, emosional, moral, rasa kasih
sayang, kesopanan, toleransi, kejujuran, dan kebersihan, disiplin diri, harga
diri, tanggung jawab, keberanian moral, kerajinan, komitmen, estetika, dan
etika.[7]
Lalu bagaimana kiat agar menjadi pribadi yang unggul? Berikut ini beberapa
di antaranya :
Ø Percaya diri, yakinkan bahwa kita ditakdirkan menjadi ummat terbaik,
lakukan amal terbaik
Ø Bangun sistem yang kondusif pilih lingkungan dan teman-teman yang
berkualitas
Ø Mampu bersinergi (berjamaah)
Ø Manajemen qalbu mampu mengendalikan hati
Bangkitlah dan jangan ditunda-tunda lagi untuk menjadi seorang pribadi
muslim yang berprestasi, yang unggul dalam potensi yang telah dianugerahkan
Allah kepada setiap diri hamba-hamba-nya.
DAFTAR PUSTAKA
Sagala, Syaiful.2009. Kemampuan
Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan. Bandung : Alfabeta.
Usman Uzer,Moh.2009. Menjadi
Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.
[2] Neokorteks adalah bagian dari korteks serebral (bersama dengan
archicortex dan paleocortex - yang merupakan bagian kortikal dari sistem
limbik).
[3] Sistem limbik:
Sistem limbik, sering disebut sebagai "otak emosional", ditemukan
terkubur di dalam otak besar. Seperti otak kecil, evolusi struktur agak lama.
[4] bagian dari korteks serebral baik belahan otak berbaring di dalam kuil/batok kepala. Secara otomatis memori
dalam otak akan tersimpan didalamnya
[6] Ibid. Hlm.34


Tidak ada komentar:
Posting Komentar