Selasa, 26 Juni 2012

metOdoLogi peNeLitian


A.    Latar Belakang
Islam adalah agama yang memberikan arti yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Islam memiliki dasar pokok yang menjadi pedoman bagi umat manusia yakni Al-Qur’an dan Al-Hadits yang didalamnya menguraikan dengan jelas tentang moral dan akhlak dalam kehidupan manusia. Akhlak merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia.
Inti dari ajaran islam adalah mengadakan bimbingan bagi kehidupan mental dan jiwa manusia, sebab dalam bidang inilah terletak hakikat manusia.[1] Hal ini dapat kita lihat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal yakni tentang posisi akhlak yang oleh Nabi SAW dijadikan sebagai dasar untuk membangun suatu bangsa dan negara. Dalam hadits tersebut disebutkan pula bahwa akhlak merupakan misi utama diutusnya Rosululloh SAW. Adapun potongan dari hadist yang dimaksud adalah :
........إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق. )رواه احمد بن حمبل(
“ ................sesungguhnya saya diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang baik”.( HR. Imam Ahmad bin Hambal )

Dari hadits diatas dapat dipahami bahwa tujuan utama diutusnya Rosululloh SAW hanya untuk membangun akhlak yang mulia atau menciptakan manusia-manusia yang memiliki perilaku yang baik dan jujur. Menurut Prof.H.Abdurrahman Mas’ud, dalam bukunya Antologi Studi Agama Dan Pendidikan;Islam menyatakan bahwa Akhlak merupakan bentuk jama’ dari khulq dalam bahasa arab yang berarti character, innate peculiarity atau tabi’ah yang dalam al-qur’an oleh Muhammad Asad ditafsirkan sebagai way of life. Khulq mempunyai akar kata yang sama dengan khaliq ( pencipta ) dan makhluq ( yang diciptakan ) yang mana konsep keduanya bersifat universal atau menyeluruh. Dalam konteks ini misi utama Rosululloh di bumi adalah dalam rangka makarimal akhlaq atau membangun excellent and noble quality ( character .[2]
Akan tetapi apabila kita melihat kehidupan saat ini, kemajuan ilmu teknologi dan pengetahuan tanpa disadari telah mengakibatkan perubahan-perubahan yang secara nyata berdampak pada kondisi kehidupan manusia. Pada satu sisi manusia menginginkan adanya perubahan, tetapi disisi lain perubahan-perubahan yang terjadi menurut kesiapan itu merupakan suatu keharusan yang menjadi dasar dan pegangan dalam menjalankan kehidupan. Untuk itu pemahaman agama harus mampu menjawab dan meluruskan persoalan-persoalan keduniawian dan perilaku-perilakunya baik individu maupun masyarakat. Untuk mengantisipasi perubahan-perubahan budaya yang terjadi dewasa ini yang dapat merusak kelangsungan hidup masyarakat suatu bangsa.
Pemberian pendidikan khususnya pendidikan akhlak adalah sangat penting artinya bagi pembentukan sikap dan tingkah laku anak agar menjadi anak yang baik dan bermoral karena pembentukan moral yang tinggi adalah tujuan utama pendidikan islam.[3]
Selanjutnya, akhlak dalam agama islam adalah suatu ilmu yang dipelajari didalamnya tentang tingkah laku manusia, atau sikap hidup manusia (the human conduct) dalam pergaulan hidup.[4]
Adapun perlunya dipelajari “sikap hidup” manusia tersebut karena manusia adalah termasuk makhluk sosial atau zoon politicon yakni makhluk berpolitik. Manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan manusia yang lain. Oleh karena itu tingkah laku atau sikap manusia dalam pergaulan hidup menimbulkan suatu norma atau akibat yang dapat menguntungkan atau merugikan.[5]
Dalam rangka pemberian akhlak menjadi tanggungjawab setiap umat Islam secara keseluruhan. Ia tidak dapat dibebankan hanya pada seorang (guru) tetapi orang tua juga harus ikut berperan dalam pemberian pendidikan akhlak dan pembentukan akhlak yang baik.
Imam ghozali mengemukakan tentang kewajiban orang tua, yaitu ; “ harus mendidik, mengasuh dan mengajarnya dengan akhlak atau moral yang tinggi serta memeliharanya dari lingkungan yang jelek.[6]
Pernyataan al-Ghozali diatas dimaksudkan bahwa orang tua sebagai orang yang paling dekat dan paling banyak berkumpul dengan anak memiliki tugas dan kewajiban untuk menjadikan anaknya sebagai orang yang berakhlak mulia. Untuk itu orang tua harus memberikan teladan, memilihkan teman dan lingkungan yang baik serta memilihkan sekolah yang baik pula sehingga anak akan tumbuh menjadi pribadi yang baik jasmani maupun rohaninya.
Dalam kaitannya dengan persoalan pemberian akhlak kepada anak disekolah, orang tua tidak diperkenankan lepas tangan begitu saja sebab masalah yang dihadapi tidaklah mudah dikarenakan keterbatasan waktu yang tersedia. Oleh karena itu diperlukan kerjasama antara guru dan orang tua disamping diperlukannya guru yang profesional yang dapat memberikan pengetahuan serta pendidikan akhlak yang baik. Dalam hal ini yang paling berperan adalah seorang guru agama atau guru bidang studi akhlak, sehingga dengan keprofesionalannya ia dapat memecahkan mengatasi problematika akhlak pada anak didiknya.
Dalam proses pemberian pendidikan akhlak disekolah, seringkali ditemukan problem-problem yang tidak hanya bersumber pada anak didik saja akan tetapi beberapa faktor lain juga mempengaruhinya, misalnya faktor lingkungan, guru, orang tua, teman sepermainan media elektronik dan sebagainya.
Diantara contohnya adalah ketika dirumah anak memepunyai kebiasaan berkata kasar atau jorok, sedang disekolah mereka telah dibiasakan berbicara sopan dan halus, maka dari sini akan terjadilah sebuah kontradiksi yang mempengaruhi perkembangan anak.
Demikian juga media elektronik (televisi, handphone, laptop) yang dengan kecanggihannya seringkali menayangkan gambar-gambar atau film yang tidak pantas dilihat oleh anak-anak yang tentunya akan berpengaruh dalam kehidupan sehari-harinya. Kenyataan tersebut diatas dapat dijadikan salah satu faktor terjadinya problem dalam pembentukan akhlak anak.
Yang menjadi persoalannya adalah, bagaimanakah seorang guru dapat memberikan pendidikan akhlak yang baik dalam waktu yang sangat terbatas tersebut sementara tantangan dan faktor-faktor yang dapat merusak akhlak cukup banyak. Dari sinilah kemudian perlu adanya pengertian dan kerjasama antara guru dan orang tua untuk sama-sama membimbing dan mengarahkan serta memberi tauladan yang dapat dijadikan contoh yang baik bagi anak.
Berdasarkan alasan itulah penulis terdorong untuk membahasnya dalam penelitian dengan judul ; “ Problematika Pendidikan Akhlak dan Upaya Mengatasinya di SMP Negeri I Ngimbang”.

B.     Rumusan Masalah
Berangkat dari latar belakang diatas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
1.    Apa saja problematika pendidikan akhlak di SMP Negeri I Ngimbang?
2.    Apa tindakan yang ditempuh oleh sekolah (guru) untuk mengatasi problematika pendidikan akhlak di SMP Negeri I Ngimbang?
3.    Apa peran guru bidang studi akhlak dalam pendidikan di SMP Negeri I Ngimbang?

C.    Tujuan dan Manfaat Penelitian
Dari rumusan masalah diatas, maka tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui :
1.    Problematika pendidikan akhlak di SMP Negeri I Ngimbang
2.    Tindakan yang ditempuh oleh sekolah (guru) untuk mengatasi problematika pendidikan akhlak di SMP Negeri I Ngimbang
3.    Peran guru bidang studi akhlak dalam pendidikan di SMP Negeri I Ngimbang
Sedangkan manfaat penelitian dari penelitian ini adalah :
1.    Bagi Lembaga : penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan dapat dijadikan wacana untuk menambah pengetahuan khususnya tentang pendidikan akhlak.
2.    Bagi Masyarakat: penelitian ini diharapkan dapat memberikan dorongan kepada masyarakat untuk berperan menciptakan lingkungan yang bermoral, sehingga akan menghasilkan keturunan yang baik dalam bermasyarakat.
3.    Bagi guru bidang studi akhlak : penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan dan informasi yang positif dalam meningkatkan pendidikan akhlak untuk diaktualisasikan kepada siswa-siswinya.

D.    Metode Penelitian
Pada dasarnya penelitian ini berdasarkan pada suatu penelitian kualitatif yang bersikap deskriptif, maka metode yang penulis gunakan adalah metode kualitatif. Metode merupakan hal yang sangat penting dalam penelitian ilmiah, sebab metode merupakan syarat utama untuk mencapai suatu tujuan dan upaya untuk mendapatkan data-data yang diperlukan serta dapat dipertanggungjawabkan. Untuk itu dalam penelitian ini digunakan beberapa metode, antara lain;

1.    Fokus dan Ruang Lingkup
Penentuan fokus penelitian yaitu dengan memilih fokus atau pokok permasalahan yang diteliti dan bagaimana menfokuskannya, yang mana pada awalnya masalah yang diteliti merupakan masalah yang sangat umum yang kemudian dispesifikkan.[7] Sedangkan membuat ruang lingkup berarti telah membuat batasan sehingga masalah yang akan diamati tidak merambah kemana-mana.
Adapun fokus penelitian ini, peneliti memfokuskan pada problematika yang dihadapi SMP Negeri I Ngimbang dalam pendidikan akhlak dan upaya yang ditempuh untuk mengatasi problematika tersebut.

2.    Sumber Data
Yang dimaksud dari sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data diperoleh.[8] Hal ini tidak lain yakni sumber data berasal dari Lembaga yang bersangkutan yang dalam hal ini dalah SMP Negeri I Ngimbang.

3.    Metode pengumpulan data
a.    Metode Pengamatan Berperan Serta ( Observasi )
Pengamatan berperan serta adalah metode penelitian yang bercirikan interaksi sosial yang memakan waktu lama antara peneliti dan lingkungan subyek dan selama itu data dikumpulkan dalam bentuk catatan dilapangan yang kemudian disusun secara sistematis.[9]
b.    Metode Wawancara
Metode wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua belah pihak dalam hal ini adalah pewawancara dan yang diwawancarai.[10] Metode ini bertujuan untuk memperoleh data secara langsung yang berkenaan dengan problematika yang dihadapi guru dalam melaksanakan pendidikan akhlak serta untuk mengetahui sejauh mana peran guru bidang studi akidah akhlak.

c.    Metode Dokumentasi
Dokumentsai adalah setiap bahan tertulis ataupun film.[11] Dengan metode ini peneliti gunakan untuk memperoleh data yang bersumber dari dokumen.
4.    Metode Analisis Data
Dikarenakan peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif, dimana data yang terkumpul berbentuk kata-kata, gambar bukan angka-angka. Maka dari data-data tersebut kemudian dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a.    Menelaah seluruh data yang terkumpul dari berbagai sumber
b.    Mengadakan reaksi data yang dilakukan dengan membuat rangkuman-rangkuman inti, proses dan pernyataan-pernyataan yang perlu.
c.    Menyusun data atau mengorganisasikan pokok-pokok pikiran tersebut dan mengujikannya secara deskriptif.
d.   Mengadakan pemeriksaan kevalidan data yang diperoleh serta memberi makna pada hasil penelitian dengan cara menghubungkan dengan teori yang ada.
e.    Mengambil kesimpulan.[12]

E.     Kajian Pustaka
Pada dasarnya urgensi dari adanya telaah pustaka adala sebagai bahan otokritik terhadap penelitian yang ada, baik mengenal kelebihan ataupun kekurangannya, sekaligus sebagai bahan perbandingan terhadap kajian terdahulu. Disamping itu telaah pustaka juga mempunyai andil besar dalam rangka memperoleh informasi secukupnya tentang teori-teori yang ada kaitannya dengan judul yang digunakan untuk memperoleh landasan teori ilmiah. Harus diakui bahwa penelitian dan penulisan dengan tema problematika akhlak pernah dilakukan, namun yang membedakan adalah fokus, obyek serta sasaran yang akan dibidik dalam penelitian ini.
Dari telaah pustaka yang telah dilakukan, penulis ingin mengemukakan bahwa penelitian yang akan dilaksanakan ini berbeda dengan penelitian yang ada sebelumnya. Adapun yang membedakan adalah fokus kajian dalam penelitian serta tujuan dari penelitian ini. Oleh karena itu penulis berpendapat bahwa rencana penelitian ini layak untuk diangkat.

F.     Sistematika Penelitian
Untuk mempermudah memahami dan mencerna setiap masalah-masalah yang akan dibahas, maka penulis menyajikan sistematika penelitian yang terdiri dari 5 bab dan setiap bab terdiri beberapa sub bab dengan sistematika sebagai berikut :
1.    Bagian Awal
Pada bagian ini memuat halaman-halaman : halaman judul, halaman motto, halaman persembahan, halaman kata pengantar, daftar isi.
2.    Bagian Inti Berisi
BAB I         : Pendahuluan,
  Pada bab ini terdiri dari Identifikasi Masalah, Perumusan Masalah,   Tujuan dan Manfaat Penelitian, Metodologi Penelitian, Kerangka Teori dan Sistematika Penelitian
BAB II       : Pendidikan akhlak dan problematikanya,
Pada bab ini memuat landasan teori yang terdiri dari tiga sub bab yaitu :
Sub bab pertama : pendidikan akhlak dan ruang lingkupnya, yaitu pengertian tentang akhlak, fungsi dan tujuan pendidikan akhlak, dasar-dasar pelaksanaan pendidikan akhlak, materi pendidikan akhlak, dan metode pendidikan akhlak.
Sub bab kedua  : Problematika Pendidikan akhlak.
Sub bab ketiga : Peran guru dan lingkungan dalam pendidikan akhlak
BAB III       :Pendidikan akhlak di Sekolah Menengah Pertama Negeri I     Ngimbang, pada bab ini terdiri dari tiga sub bab, yaitu ;
Sub bab pertama : tentang gambaran umum tentang Sekolah Menengah Pertama Negeri I Ngimbang, meliputi ; sejarah singkat SMPN I Ngimbang, letak geografis SMPN I Ngimbang, struktur organisasi dan tata kerja SMPN I Ngimbang, keberadaan guru, karyawan dan siswa, sarana dan prasarana, serta kondisi masyarakat sekitar SMPN I Ngimbang.
Sub bab kedua : Pendidikan akhlak di SMPN I Ngimbang, meliputi pelaksanaan pendidikan akhlak di SMPN I Ngimbang, peran guru bidang studi aqidah akhlak di SMPN I Ngimbang, problematika pendidikan akhlak di SMPN I Ngimbang.
Sub bab ketiga : Cara mengatasi Problematika pendidikan akhlak SMPN I Ngimbang, meliputi : upaya yang dilakukan kepala sekolah, guru dan warga masyarakat sekitar SMPN I Ngimbang, upaya yang dapat dilakukan siswa SMPN I Ngimbang.
BAB IV      :Analisis, terhadap Problematika Pendidikan akhlak dan cara  mengatasinya, terdiri dari tiga sub bab, yaitu :
Sub bab pertama : Telaah terhadap Problematika Pendidikan Akhlak dan upaya mengatasinya
Sub bab kedua : Telaah terhadap guru bidang studi akidah akhlak.
Sub bab ketiga : Profesionalisasi Pendidik dalam pendidikan akhlak.
BAB V       : Kesimpulan, Saran dan Penutup.
3.    Bagian Akhir
Pada bagian ini memuat tentang daftar pustaka, lampiran-lampiran dan daftar riwayat pendidikan penulis.


[1] Nazruddin Razak, Dienul Islam, (Bandung : Al-Ma’arif, 1973 ), hal . 45
[2] Prof.H.Abdurrahman Mas’ud, Antologi Studi Agama Dan Pendidikan;Islam dan etika Pembangunan ,hal 137-138
[3] M. Athiyah Al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, Terj. Djohar Bustami, Aghani, dan Johar Bahri, (Jakarta : Bulan Bintang, 1970), hlm. 24.
[4] Zuhairini, dkk., op.cit.,hlm.51.
[5] Ibid
[6] M. Athiyah Al-Abrasyi, op cit., hlm.119.
[7] Imron Arifin, Penelitian Kualitatif dalam Ilmu-ilmu Sosial dan keagamaan, ( Malang : Kalimasada Press, 1994), hlm. 37
[8] Suharsimi Arikunto,  Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, ( Jakarta : Rineka Cipta, 2002), hlm. 107.
[9] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, ( Bandung : Remaja Rosdakarya, 2001),hlm.135
[10] Ibid., hlm. 135.
[11] Ibid., hlm. 161.
[12] Lexy J. Moleong, op.cit., hlm. 190

Motivating Learning in Young Children
Motivation is something that the power possessed by each individual to work or do anything that comes from a good conscience. If the heart and conscience is clean then it is possible to facilitate the emergence of motivation, including motivation to learn.
In terminology, motivation alone can be interpreted as an encouragement; boost in a person consciously or unconsciously to do any act in accordance particular purpose. While the etymology, the underlying motivation is the encouragement and influence each person's efforts and activities to achieve the desired goal. In learning activities, the motivation may be regarded as the overall driving force in students that lead to learning activities, which ensure the continuity of the learning activities and provide direction on learning activities, so that the desired destination by studying a subject that can be achieved.
Being related in Islamic perspective, the motivation of learning itself has been required in Islam. In detail, the motivation that can affect students' learning activities are divided into two: the intrinsic motivation that comes from within individuals as well as extrinsic motivation that comes from environmental stimuli or from outside oneself. Also serves as the driving motivation and achievement in one's business.
Of motivation has also been mentioned in various verses of the Qur'an, one of them in a letter that Al-Mujadilah verse 11:
$pkš‰r'¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) Ÿ@ŠÏ% öNä3s9 (#qßs¡¡xÿs? †Îû ħÎ=»yfyJø9$# (#qßs|¡øù$$sù Ëx|¡øÿtƒ ª!$# öNä3s9 ( #sŒÎ)ur Ÿ@ŠÏ% (#râ“à±S$# (#râ“à±S$$sù Æìsùötƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_u‘yŠ 4 ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ׎Î7yz ÇÊÊÈ   

The essence of the verse that God has promised some degree for people who have a desire to continue learning.
Young children learn from everything they do. They are naturally curious; they want to explore and discover. If their explorations bring pleasure or success, they will want to learn more. During these early years, children form attitudes about learning that will last a lifetime. Children who receive the right sort of support and encouragement during these years will be creative, adventurous learners throughout their lives. Children who do not receive this sort of support and interaction are likely to have a much different attitude about learning later in life.
Children do many things simply because they want to do them. Selecting a toy or a shirt to wear is the result of "intrinsic motivation." The child makes her own choice and achieves satisfaction from both the act of choosing and from the opportunity to play with the toy or wear the shirt. Since the activity is generating the motivation, it is mostly self-sustaining for as long as the child wants to continue the activity.
Children also engage in some activities because adults tell them to, or in an effort to please another party. These activities are "extrinsically motivated." When a child is extrinsically motivated, the reward comes from outside the child-it has to be provided by someone else, and has to be continually given for the child to remain motivated enough to continue the activity.  It is more difficult for a child to sustain extrinsically motivated activity because of this reliance upon some outside force.
Since intrinsically motivated activity is more rewarding in and of itself, children learn more from this sort of activity, and they retain that learning better. Intrinsically motivated children are more involved in their own learning and development. In other words, a child is more likely to learn and retain information when he is intrinsically motivated - when he believes he is pleasing himself. Parents can build on this sense of confidence by guiding their child's play and activities while still giving the child a range of options. This unstructured play is an essential element of the child's motivation, learning, and development.
 A number of behavioral characteristics are indicators of high motivation. Here are some of the important factors and some ways to help your child develop these characteristics.
Persistence is the ability to stay with a task for a reasonably long period of time. While very young children cannot concentrate on one activity for an hour, there are still measurable differences in the length of time that young children will engage in an activity.  A highly motivated child will stay involved for a long period of time, whereas an unmotivated child will give up very easily when not instantly successful. Children learn persistence when they are successful at a challenging task. The art in building persistence is in offering a task that is just challenging enough, but not overwhelming.
Choice of challenge is another characteristic of motivation. Children who experience success in meeting one challenge will become motivated, welcoming another. These motivated learners will choose an activity that is slightly difficult for them, but provides an appropriate challenge. When they successfully complete such a task, children gain a high level of satisfaction. Unmotivated children (those who have not experienced early success) will pick something that is very easy and ensures an instant success. With such easy success, children feel only a very low level of satisfaction, because they know that the task offered little challenge. The challenge for parents is helping their child find an appropriate challenge while still allowing the choice to be the child's.
The amount of dependency on adults is another indicator of motivation. Children with strong intrinsic motivation do not need an adult constantly watching and helping with activities.  Children who have a lower level of motivation or are extrinsically motivated need constant attention from adults and cannot function independently. Since independence is an important aspect of quality learning, this dependence on adults will greatly limit children's ability to succeed in school. Parents can increase the likelihood of their child's building independent motivation by providing toys and activities that play to the child's natural creativity and curiosity. Often, these are the simplest, most basic playthings: blocks, little plastic "people," a toy car or two, and crayons and paper. These things encourage children to invent their own worlds rather than depending on an adult to entertain them.
The last indicator of motivational level is emotion.  Children who are clearly motivated will have a positive display of emotion. They are satisfied with their work and show more enjoyment in the activity.  Children without appropriate motivation will appear quiet, sullen and bored. They will not take any apparent pleasure in their activity and will often complain. As a parent, you are probably the best judge of your child's moods. That cranky, whiny voice is usually a good indicator that a child doesn't feel very good about herself and needs a new adventure of some sort.
New born infants are born with a tremendous amount of intrinsic motivation. This motivation is aimed toward having some visible effect on the environment. When infants can actually see the results of their actions as a reward, they are motivated to continue those actions. These attempts toward control are limited within the young child, and  include crying, vocalizations, facial expressions and small body movements. Toys that change or make sound as the child moves them are therefore strong motivators.
As infants grow and continue to mature (9-24 months), more voluntary, purposeful movements are possible. This gives them more control of their environment. This wider range of control allows children to feel that they are successful. Success leads to higher self-esteem and feelings of self-worth, which leads to strengthened motivation. As children continue to develop during this time period, they are better able to make decisions and plan what to do to gain control of things around them. They are beginning to set their own goals for activities. This success is not based upon adult standards, but totally upon the child's ability to accomplish the goals that he has set out for himself.
By two years of age, children are developing the ability to execute a sequence of events in order to achieve a goal. They also have an appreciation for standards and begin to evaluate their efforts. By three years of age, children become interested in doing things well, as opposed to just doing them. They have an idea of various levels of competency in performance and judge their success by their own internal standards. Therefore they have much less need for adult feedback about the quality of their efforts.
Preschoolers (age 3-5 years) are beginning to be more involved with verbal problem solving skills. They direct their own learning through speech and use vocal communication to direct their own behavior to solve problems. Young children are often heard talking themselves through a series of actions that lead to the solution of a problem. As children get older, this "talking out loud" will become an internal monologue. This newly developing ability to problem solve is the basis for motivation at this stage. Having the self confidence to know that one can solve a problem motivates the learner to accept other new and challenging situations, which in turn lead to greater learning.
For parents of young children, the goal should be to appropriately support the development of motivation so that there is a proper foundation for optimal educational growth.  Parents should be very cautions about the use of many extrinsic rewards, as this can severely interfere with the child's motivational development. Praise for an accomplishment is appropriate, but be sure that your child is doing a task because she is interested, not because she thinks it will bring praise from you.
Difficulties arise when adults or others within the child's environment enforce external standards and replace the internal reward system with one that depends upon outside forces to supply all of the rewards (candy, money, excessive praise). Children then begin to feel successful only if someone else rewards them for accomplishments. They lose their intrinsic motivation and may only feel success when someone else judges them as successful. In such situations, children may not develop feelings of self-worth, and will judge their own value by someone else's standards. Your child should never need to ask, "Did I do well?" She should know and be confident in her own successes.
There are several strategies parents can use to help children remain more fully intrinsically motivated.
Provide an environment (through age appropriate toys, activities, etc.) that allows children to freely explore and to see the effect of their actions (toys that have visible or tangible changes when moved).
Allow children ample time when working to allow for persistence. When children are deeply involved with an activity, make sure that they can finish without interruption. Resist the natural urge to "help," and let the child know if, for example, we have to go to the grocery store in a few minutes.
Respond to children's needs in a consistent, predictable manner, but allow them to be as independent as possible. Provide many opportunities for children and adults to explore together and interact directly. It is important for both children and adults to be working together on an activity. This lets you observe, model, and encourage your child.
Provide situations that give children an acceptable challenge.  Activities that are slightly difficult for the child will be more motivating and provide for stronger feelings of success when accomplished. This may take some trial and error at first.
Give children opportunities to evaluate their own accomplishments. Rather than stating that you think they have done a good job, ask them what they think of their work. You'll never go wrong by asking the question, "What do YOU think?"
Do not use excessive rewards. They tend to undermine children's ability to value themselves. Praise and rewards should be based upon children's effort and persistence, rather than on the actual accomplishment.
The world through a child's eyes is an awesome place. Allow children to explore and discover their world. Around every corner is an experience just waiting to surprise and excite young growing minds; all they need is a small amount of direction and a large amount of freedom. It is not necessary to praise and reward children for their own actions as they attempt to control their environment. The feelings of accomplishment they gain from results of those actions will be reward enough. Providing excessive praise and rewards is unnecessary and can actually be harmful to children's motivation and desire to learn. Remember, the habits and attitudes toward learning that are formed in these early years set the mood for all future learning.