Selasa, 26 Juni 2012

metOdoLogi peNeLitian


A.    Latar Belakang
Islam adalah agama yang memberikan arti yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Islam memiliki dasar pokok yang menjadi pedoman bagi umat manusia yakni Al-Qur’an dan Al-Hadits yang didalamnya menguraikan dengan jelas tentang moral dan akhlak dalam kehidupan manusia. Akhlak merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia.
Inti dari ajaran islam adalah mengadakan bimbingan bagi kehidupan mental dan jiwa manusia, sebab dalam bidang inilah terletak hakikat manusia.[1] Hal ini dapat kita lihat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal yakni tentang posisi akhlak yang oleh Nabi SAW dijadikan sebagai dasar untuk membangun suatu bangsa dan negara. Dalam hadits tersebut disebutkan pula bahwa akhlak merupakan misi utama diutusnya Rosululloh SAW. Adapun potongan dari hadist yang dimaksud adalah :
........إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق. )رواه احمد بن حمبل(
“ ................sesungguhnya saya diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang baik”.( HR. Imam Ahmad bin Hambal )

Dari hadits diatas dapat dipahami bahwa tujuan utama diutusnya Rosululloh SAW hanya untuk membangun akhlak yang mulia atau menciptakan manusia-manusia yang memiliki perilaku yang baik dan jujur. Menurut Prof.H.Abdurrahman Mas’ud, dalam bukunya Antologi Studi Agama Dan Pendidikan;Islam menyatakan bahwa Akhlak merupakan bentuk jama’ dari khulq dalam bahasa arab yang berarti character, innate peculiarity atau tabi’ah yang dalam al-qur’an oleh Muhammad Asad ditafsirkan sebagai way of life. Khulq mempunyai akar kata yang sama dengan khaliq ( pencipta ) dan makhluq ( yang diciptakan ) yang mana konsep keduanya bersifat universal atau menyeluruh. Dalam konteks ini misi utama Rosululloh di bumi adalah dalam rangka makarimal akhlaq atau membangun excellent and noble quality ( character .[2]
Akan tetapi apabila kita melihat kehidupan saat ini, kemajuan ilmu teknologi dan pengetahuan tanpa disadari telah mengakibatkan perubahan-perubahan yang secara nyata berdampak pada kondisi kehidupan manusia. Pada satu sisi manusia menginginkan adanya perubahan, tetapi disisi lain perubahan-perubahan yang terjadi menurut kesiapan itu merupakan suatu keharusan yang menjadi dasar dan pegangan dalam menjalankan kehidupan. Untuk itu pemahaman agama harus mampu menjawab dan meluruskan persoalan-persoalan keduniawian dan perilaku-perilakunya baik individu maupun masyarakat. Untuk mengantisipasi perubahan-perubahan budaya yang terjadi dewasa ini yang dapat merusak kelangsungan hidup masyarakat suatu bangsa.
Pemberian pendidikan khususnya pendidikan akhlak adalah sangat penting artinya bagi pembentukan sikap dan tingkah laku anak agar menjadi anak yang baik dan bermoral karena pembentukan moral yang tinggi adalah tujuan utama pendidikan islam.[3]
Selanjutnya, akhlak dalam agama islam adalah suatu ilmu yang dipelajari didalamnya tentang tingkah laku manusia, atau sikap hidup manusia (the human conduct) dalam pergaulan hidup.[4]
Adapun perlunya dipelajari “sikap hidup” manusia tersebut karena manusia adalah termasuk makhluk sosial atau zoon politicon yakni makhluk berpolitik. Manusia tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan manusia yang lain. Oleh karena itu tingkah laku atau sikap manusia dalam pergaulan hidup menimbulkan suatu norma atau akibat yang dapat menguntungkan atau merugikan.[5]
Dalam rangka pemberian akhlak menjadi tanggungjawab setiap umat Islam secara keseluruhan. Ia tidak dapat dibebankan hanya pada seorang (guru) tetapi orang tua juga harus ikut berperan dalam pemberian pendidikan akhlak dan pembentukan akhlak yang baik.
Imam ghozali mengemukakan tentang kewajiban orang tua, yaitu ; “ harus mendidik, mengasuh dan mengajarnya dengan akhlak atau moral yang tinggi serta memeliharanya dari lingkungan yang jelek.[6]
Pernyataan al-Ghozali diatas dimaksudkan bahwa orang tua sebagai orang yang paling dekat dan paling banyak berkumpul dengan anak memiliki tugas dan kewajiban untuk menjadikan anaknya sebagai orang yang berakhlak mulia. Untuk itu orang tua harus memberikan teladan, memilihkan teman dan lingkungan yang baik serta memilihkan sekolah yang baik pula sehingga anak akan tumbuh menjadi pribadi yang baik jasmani maupun rohaninya.
Dalam kaitannya dengan persoalan pemberian akhlak kepada anak disekolah, orang tua tidak diperkenankan lepas tangan begitu saja sebab masalah yang dihadapi tidaklah mudah dikarenakan keterbatasan waktu yang tersedia. Oleh karena itu diperlukan kerjasama antara guru dan orang tua disamping diperlukannya guru yang profesional yang dapat memberikan pengetahuan serta pendidikan akhlak yang baik. Dalam hal ini yang paling berperan adalah seorang guru agama atau guru bidang studi akhlak, sehingga dengan keprofesionalannya ia dapat memecahkan mengatasi problematika akhlak pada anak didiknya.
Dalam proses pemberian pendidikan akhlak disekolah, seringkali ditemukan problem-problem yang tidak hanya bersumber pada anak didik saja akan tetapi beberapa faktor lain juga mempengaruhinya, misalnya faktor lingkungan, guru, orang tua, teman sepermainan media elektronik dan sebagainya.
Diantara contohnya adalah ketika dirumah anak memepunyai kebiasaan berkata kasar atau jorok, sedang disekolah mereka telah dibiasakan berbicara sopan dan halus, maka dari sini akan terjadilah sebuah kontradiksi yang mempengaruhi perkembangan anak.
Demikian juga media elektronik (televisi, handphone, laptop) yang dengan kecanggihannya seringkali menayangkan gambar-gambar atau film yang tidak pantas dilihat oleh anak-anak yang tentunya akan berpengaruh dalam kehidupan sehari-harinya. Kenyataan tersebut diatas dapat dijadikan salah satu faktor terjadinya problem dalam pembentukan akhlak anak.
Yang menjadi persoalannya adalah, bagaimanakah seorang guru dapat memberikan pendidikan akhlak yang baik dalam waktu yang sangat terbatas tersebut sementara tantangan dan faktor-faktor yang dapat merusak akhlak cukup banyak. Dari sinilah kemudian perlu adanya pengertian dan kerjasama antara guru dan orang tua untuk sama-sama membimbing dan mengarahkan serta memberi tauladan yang dapat dijadikan contoh yang baik bagi anak.
Berdasarkan alasan itulah penulis terdorong untuk membahasnya dalam penelitian dengan judul ; “ Problematika Pendidikan Akhlak dan Upaya Mengatasinya di SMP Negeri I Ngimbang”.

B.     Rumusan Masalah
Berangkat dari latar belakang diatas, maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
1.    Apa saja problematika pendidikan akhlak di SMP Negeri I Ngimbang?
2.    Apa tindakan yang ditempuh oleh sekolah (guru) untuk mengatasi problematika pendidikan akhlak di SMP Negeri I Ngimbang?
3.    Apa peran guru bidang studi akhlak dalam pendidikan di SMP Negeri I Ngimbang?

C.    Tujuan dan Manfaat Penelitian
Dari rumusan masalah diatas, maka tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui :
1.    Problematika pendidikan akhlak di SMP Negeri I Ngimbang
2.    Tindakan yang ditempuh oleh sekolah (guru) untuk mengatasi problematika pendidikan akhlak di SMP Negeri I Ngimbang
3.    Peran guru bidang studi akhlak dalam pendidikan di SMP Negeri I Ngimbang
Sedangkan manfaat penelitian dari penelitian ini adalah :
1.    Bagi Lembaga : penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan dapat dijadikan wacana untuk menambah pengetahuan khususnya tentang pendidikan akhlak.
2.    Bagi Masyarakat: penelitian ini diharapkan dapat memberikan dorongan kepada masyarakat untuk berperan menciptakan lingkungan yang bermoral, sehingga akan menghasilkan keturunan yang baik dalam bermasyarakat.
3.    Bagi guru bidang studi akhlak : penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan dan informasi yang positif dalam meningkatkan pendidikan akhlak untuk diaktualisasikan kepada siswa-siswinya.

D.    Metode Penelitian
Pada dasarnya penelitian ini berdasarkan pada suatu penelitian kualitatif yang bersikap deskriptif, maka metode yang penulis gunakan adalah metode kualitatif. Metode merupakan hal yang sangat penting dalam penelitian ilmiah, sebab metode merupakan syarat utama untuk mencapai suatu tujuan dan upaya untuk mendapatkan data-data yang diperlukan serta dapat dipertanggungjawabkan. Untuk itu dalam penelitian ini digunakan beberapa metode, antara lain;

1.    Fokus dan Ruang Lingkup
Penentuan fokus penelitian yaitu dengan memilih fokus atau pokok permasalahan yang diteliti dan bagaimana menfokuskannya, yang mana pada awalnya masalah yang diteliti merupakan masalah yang sangat umum yang kemudian dispesifikkan.[7] Sedangkan membuat ruang lingkup berarti telah membuat batasan sehingga masalah yang akan diamati tidak merambah kemana-mana.
Adapun fokus penelitian ini, peneliti memfokuskan pada problematika yang dihadapi SMP Negeri I Ngimbang dalam pendidikan akhlak dan upaya yang ditempuh untuk mengatasi problematika tersebut.

2.    Sumber Data
Yang dimaksud dari sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data diperoleh.[8] Hal ini tidak lain yakni sumber data berasal dari Lembaga yang bersangkutan yang dalam hal ini dalah SMP Negeri I Ngimbang.

3.    Metode pengumpulan data
a.    Metode Pengamatan Berperan Serta ( Observasi )
Pengamatan berperan serta adalah metode penelitian yang bercirikan interaksi sosial yang memakan waktu lama antara peneliti dan lingkungan subyek dan selama itu data dikumpulkan dalam bentuk catatan dilapangan yang kemudian disusun secara sistematis.[9]
b.    Metode Wawancara
Metode wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan oleh dua belah pihak dalam hal ini adalah pewawancara dan yang diwawancarai.[10] Metode ini bertujuan untuk memperoleh data secara langsung yang berkenaan dengan problematika yang dihadapi guru dalam melaksanakan pendidikan akhlak serta untuk mengetahui sejauh mana peran guru bidang studi akidah akhlak.

c.    Metode Dokumentasi
Dokumentsai adalah setiap bahan tertulis ataupun film.[11] Dengan metode ini peneliti gunakan untuk memperoleh data yang bersumber dari dokumen.
4.    Metode Analisis Data
Dikarenakan peneliti menggunakan metode deskriptif kualitatif, dimana data yang terkumpul berbentuk kata-kata, gambar bukan angka-angka. Maka dari data-data tersebut kemudian dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a.    Menelaah seluruh data yang terkumpul dari berbagai sumber
b.    Mengadakan reaksi data yang dilakukan dengan membuat rangkuman-rangkuman inti, proses dan pernyataan-pernyataan yang perlu.
c.    Menyusun data atau mengorganisasikan pokok-pokok pikiran tersebut dan mengujikannya secara deskriptif.
d.   Mengadakan pemeriksaan kevalidan data yang diperoleh serta memberi makna pada hasil penelitian dengan cara menghubungkan dengan teori yang ada.
e.    Mengambil kesimpulan.[12]

E.     Kajian Pustaka
Pada dasarnya urgensi dari adanya telaah pustaka adala sebagai bahan otokritik terhadap penelitian yang ada, baik mengenal kelebihan ataupun kekurangannya, sekaligus sebagai bahan perbandingan terhadap kajian terdahulu. Disamping itu telaah pustaka juga mempunyai andil besar dalam rangka memperoleh informasi secukupnya tentang teori-teori yang ada kaitannya dengan judul yang digunakan untuk memperoleh landasan teori ilmiah. Harus diakui bahwa penelitian dan penulisan dengan tema problematika akhlak pernah dilakukan, namun yang membedakan adalah fokus, obyek serta sasaran yang akan dibidik dalam penelitian ini.
Dari telaah pustaka yang telah dilakukan, penulis ingin mengemukakan bahwa penelitian yang akan dilaksanakan ini berbeda dengan penelitian yang ada sebelumnya. Adapun yang membedakan adalah fokus kajian dalam penelitian serta tujuan dari penelitian ini. Oleh karena itu penulis berpendapat bahwa rencana penelitian ini layak untuk diangkat.

F.     Sistematika Penelitian
Untuk mempermudah memahami dan mencerna setiap masalah-masalah yang akan dibahas, maka penulis menyajikan sistematika penelitian yang terdiri dari 5 bab dan setiap bab terdiri beberapa sub bab dengan sistematika sebagai berikut :
1.    Bagian Awal
Pada bagian ini memuat halaman-halaman : halaman judul, halaman motto, halaman persembahan, halaman kata pengantar, daftar isi.
2.    Bagian Inti Berisi
BAB I         : Pendahuluan,
  Pada bab ini terdiri dari Identifikasi Masalah, Perumusan Masalah,   Tujuan dan Manfaat Penelitian, Metodologi Penelitian, Kerangka Teori dan Sistematika Penelitian
BAB II       : Pendidikan akhlak dan problematikanya,
Pada bab ini memuat landasan teori yang terdiri dari tiga sub bab yaitu :
Sub bab pertama : pendidikan akhlak dan ruang lingkupnya, yaitu pengertian tentang akhlak, fungsi dan tujuan pendidikan akhlak, dasar-dasar pelaksanaan pendidikan akhlak, materi pendidikan akhlak, dan metode pendidikan akhlak.
Sub bab kedua  : Problematika Pendidikan akhlak.
Sub bab ketiga : Peran guru dan lingkungan dalam pendidikan akhlak
BAB III       :Pendidikan akhlak di Sekolah Menengah Pertama Negeri I     Ngimbang, pada bab ini terdiri dari tiga sub bab, yaitu ;
Sub bab pertama : tentang gambaran umum tentang Sekolah Menengah Pertama Negeri I Ngimbang, meliputi ; sejarah singkat SMPN I Ngimbang, letak geografis SMPN I Ngimbang, struktur organisasi dan tata kerja SMPN I Ngimbang, keberadaan guru, karyawan dan siswa, sarana dan prasarana, serta kondisi masyarakat sekitar SMPN I Ngimbang.
Sub bab kedua : Pendidikan akhlak di SMPN I Ngimbang, meliputi pelaksanaan pendidikan akhlak di SMPN I Ngimbang, peran guru bidang studi aqidah akhlak di SMPN I Ngimbang, problematika pendidikan akhlak di SMPN I Ngimbang.
Sub bab ketiga : Cara mengatasi Problematika pendidikan akhlak SMPN I Ngimbang, meliputi : upaya yang dilakukan kepala sekolah, guru dan warga masyarakat sekitar SMPN I Ngimbang, upaya yang dapat dilakukan siswa SMPN I Ngimbang.
BAB IV      :Analisis, terhadap Problematika Pendidikan akhlak dan cara  mengatasinya, terdiri dari tiga sub bab, yaitu :
Sub bab pertama : Telaah terhadap Problematika Pendidikan Akhlak dan upaya mengatasinya
Sub bab kedua : Telaah terhadap guru bidang studi akidah akhlak.
Sub bab ketiga : Profesionalisasi Pendidik dalam pendidikan akhlak.
BAB V       : Kesimpulan, Saran dan Penutup.
3.    Bagian Akhir
Pada bagian ini memuat tentang daftar pustaka, lampiran-lampiran dan daftar riwayat pendidikan penulis.


[1] Nazruddin Razak, Dienul Islam, (Bandung : Al-Ma’arif, 1973 ), hal . 45
[2] Prof.H.Abdurrahman Mas’ud, Antologi Studi Agama Dan Pendidikan;Islam dan etika Pembangunan ,hal 137-138
[3] M. Athiyah Al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, Terj. Djohar Bustami, Aghani, dan Johar Bahri, (Jakarta : Bulan Bintang, 1970), hlm. 24.
[4] Zuhairini, dkk., op.cit.,hlm.51.
[5] Ibid
[6] M. Athiyah Al-Abrasyi, op cit., hlm.119.
[7] Imron Arifin, Penelitian Kualitatif dalam Ilmu-ilmu Sosial dan keagamaan, ( Malang : Kalimasada Press, 1994), hlm. 37
[8] Suharsimi Arikunto,  Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, ( Jakarta : Rineka Cipta, 2002), hlm. 107.
[9] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, ( Bandung : Remaja Rosdakarya, 2001),hlm.135
[10] Ibid., hlm. 135.
[11] Ibid., hlm. 161.
[12] Lexy J. Moleong, op.cit., hlm. 190

Tidak ada komentar:

Posting Komentar